Tampilkan postingan dengan label Jokowi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jokowi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Juli 2014

Pengalaman Pertama

Tiga tahun punya KTP, gue belum pernah sekalipun ikut nyoblos dalam pemilihan apapun. Karena memang saat umur 17 tahun, gue pindah ke luar kota buat nerusin kuliah. Males banget kan harus nyempetin pulang cuma buat nyoblos doang. Mending duit ongkos dipake buat beli makanan deh. Tapi, lain dengan Pilpres kali ini. Gue tiba-tiba antusias, tiba-tiba cari-cari informasi mengenai kandidat capres-cawapres, tiba-tiba gue ngecek nama gue di database KPU,  tiba-tiba ngajak temen-temen sepergaulan yang juga mahasiswa rantau untuk ngurus form A5, tiba-tiba gue ngerasa harus banget ikut nyoblos.

Bisa dibilang, gue ga nutup diri juga sih dengan hal yang berbau politik. Cuma selama ini gue berpendapat belum ada partai ataupun politisi yang bener-bener bisa bawa perubahan: gimana cara bikin biaya berobat yang bisa dicapai semua orang, gimana cara bikin transportasi yang bikin banyak orang mau ngegunain, gimana cara bikin harga bahan makanan ga naek pas mau lebaran, ongkos mudik, biaya sekolah, daaaaan banyak lagi. Karena gue yakin, hal-hal di atas ga bisa dilakuin sama satu orang baik, sedangkan kita tahu, susah buat percaya banyak orang yang betul-betul baik di partai-partai itu.

Nah, selama beberapa bulan ini, euforia pilpres gue lihat bukan hanya dilakukan oleh kalangan kelas menengah dengan SES A-B, tingkat pendidikan minimal S1 dan bertempat tinggal di perkotaan doang ( :p ). Gue sempet ngobrol sama banyak orang mulai dari Pak Dosen, Perwira TNI AD pas latihan buat SBC, sampai Bapak Becak waktu di pinggir jalan, Bapak Agen Bus waktu pesen tiket mudik, dan Bapak Kernet Bus yang lagi sepi penumpang. Semua ngomongin Pilpres.

Satu yang paling ngebekas adalah obrolan gue sama Pak Kernet Bus. Waktu itu, gue lagi perjalanan mau pulang ke rumah nenek, dari Solo gue harus 2x naik bus kota. Bua yang pertama gue naikin adalah bus yang ukuranya kecil. Biasanya, baru setengah perjalanan aja ini bus pasti rame sampe penumpangnya desek-desekan. Tapi hari itu ngga, gue udah kaya nyarter bus karena saking isinya cuma bertiga: gue, Pak Supir, Pak Kernet.
"Astaghfirullah, kok ya ra enek penumpang ki piye ya? (Astagfirullah, kok ga ada penumpang ini gimana ya?)" Kata Pak Kernet yang berdiri di deket pintu.
"Iya ya Pak, tumben biasanya rame," gue menimpali biar ada temen ngobrol.
"Lha iya tho, Mbak. Mau puasa kok sepi," Kemudian obrolan jadi panjang ngebahas gue asalnya dari mana mau kemana, kuliah semester berapa jurusan apa. Lalu Si Bapak nanya,
"Berarti Pilpres pulang ke Bogor, Mbak? Kalo di Bogor banyak yang milih siapa? Satu atau dua?,"
Pertanyaan si Bapak gue jawab dengan tawa, saat itu gue belum mikir ikut nyoblos atau ngga, apalagi milih siapa.
"Haha... Gak tau banyakan kemana, Pak. Kayanya sih sama aja," Lalu si Bapak cerita lagi, panjang.

"Kalo Solo pasti nomor dua, Mbak. Sejak dipegang Pak Jokowi, Solo berubah 100%,"
"Oya, Pak?"
"Loh ya iya... Kartu Sehat itu to Mbak, di kota lain termasuk kota mbak paling cuma berapa dapetnya kalo dicairkan. Di Solo bisa sampai 5juta. Itu yag bikin Pak Jokowi,"
Si Bapak terus ceritain pretasinya Jokowi di Solo. Gue jadi mikir, 'Bapak ini di awal obrolan masih ngeluh soal sepinya penumpang. lalu beberapa menit kemudian dia begitu optimis ngomongin seseorang yang bakal bawa perubahan secara nasional, terbukti dari kerjanya selama ini, hebat!'
Kesimpulan yang gue tarik dari obrolan sama Bapak Kernet tadi, gue bandingin dengan isu-isu miring mengenai Jokowi. Isu ga amanah lah, kemaruk kekuasaan lah, boneka lah. Gue yakin, yang ngebuat isu itu dan yang kemakan isu itu adalah orang-orang yang belum pernah tinggal di Solo atau Jakarta dan orang-orang kelas menengah ngehek yang belum pernah rasain susahnya mau berobat, dan susahnya mau bayar sekolah anak.

Hari-hari besoknya, gue semakin dibuat kagum sama Jokowi. Bukan karena visi-misinya (karena gue ga ngerti dan ga bisa bandingin mana yang lebih baik), tapi karena orang-orang baik non-partai yang mengelilinginya, dari banyaknya kampanye kreatif yang bikin gue tertarik, dan dari sikapnya dia ngadepin isu-isu murahan blekempen.

Pagi tadi, gue nyempetin sebut nama dia di doa gue. Bangun pagi terus mandi dan pergi ke TPS. Gue pengen ikut dalam perubahan. Gue pengen ikut dalam kebaikan yang dibangun oleh orang-orang baik. Gue pengen pilih Komandan buat orang-orang baik. Insya Allah...
Coblos giginya!

Senin, 30 Juni 2014

Mengenai Solo

Pulang kampung atau mudik adalah rutinitas wajib bagi setiap perantau. Biasanya, arus mudik paling tinggi adalah ketika mendekati Hari Raya. Tapi tidak bagi keluarga gue, karena mamah-bapak memilih Lebaran sambil tetap buka warung. Jadi, kami memutuskan untuk mudik lebih awal dari orang pada umumnya.

Perjalanan di dalam bus semalam suntuk entah mengapa selalu menarik perhatian gue saat itu. Beda banget sama sekarang, begitu nempel bangku bus bisa langsung tidur pules. Dari kecil untungnya gue bukanlah tipe anak yang gampang mabuk perjalanan, jadi gue bisa enjoy banget duduk selama kurang lebih 17 jam di dalam bus. Gue seneng liat lampu kendaraan, lampu jalan, juga lampu bangunan pinggir jalan. Gue suka liatin bangunan, plat kendaraan, tata ruang pada setiap kota-kota yang dilewatin. Satu kota favorit gue dari dulu: Solo. Lewatin kota ini, baik siang ataupun malem, panas atau hujan, macet atau lancar adalah sama indahnya. Bersih, rapih, dan apalagi ya... namanya waktu itu masih kecil, susah buat jelasin kenapa kita suka sesuatu. Pokonya ya suka aja. Sempat dalam hati gue bergumam, "suatu saat nanti, Maya harus rasain tinggal disini,"

Tahun demi tahun terlewati, rambut gue makin ikal, perut gue tambah buncit. Begitu juga kesukaan gue akan Kota Solo. Ke-identikan-nya melalui julukan Kota Budaya, semakin bikin gue greget untuk ingin tinggal disana. Sampai saat gue lulus SMA, entah apa yang menggerakkan hati gue untuk memilih Solo sebagai tempat ngelanjutin studi. Padahal gue tau, ga ada satupun temen yang bakal sekolah disana, mamah-bapak tetep di Bogor, dan Keluarga Nenek gue ada cukup jauh dari situ. Tekad gue udah bulat: kuliah di Solo.

Tuhan akhirnya memang mengirim gue ke Solo. Bener aja, sampai sekarang gue belum pernah nyesel 'terdampar' di Kota ini. Ada satu kesimpulan yang gue bikin sendiri mengenai kemajuan sebuah kota, yaitu mental penduduknya. Dan Solo, gue akuin mental penduduk sini udah lebih baik ketimbang kota-kota lain. Salah satu parameternya adalah perilaku lalu lintas mereka. Di Bogor apalagi Jakarta, udah bukan hal susah lagi kita ngeliat di tiap lampu merah, pengendara khususnya pengendara motor, bakal berhenti melebihi garis yang semestinya. Sampai tahun ketiga gue di Solo, belum pernah gue ngeliat hal seperti di atas tadi.

Di Pertigaan Loji Gandrung
Ga berhenti sampai disitu, Solo punya banyaak banget acara. Setiap bulan, Pemkot selalu nerbitin kalender acara-acara tersebut. Salah satu acara yang Solo-banget adalah Solo Batik Carnival (SBC). Tahun ini adalah penyelenggaraannya yang ketujuh. Daaan, gue bersyukur banget bisa terlibat di dalamnya walau hanya sebagai volunteer.

Untuk jadi volunteer, kita diharuskan daftar dulu ke pihak panitia. Setelah itu, kita akan dibagikan tugas yang entah berdasarkan apa mereka membagi tugas-tugas pada masing-masing volunteer. Ada yang kebagian tugas perkap, konsumsi, tanggung jawab penari, peserta, media, among tamu, dsb. Kebetulan, gue dapet tanggung jawab di TNI. Bukan hal yang mudah buat pegang bapak-bapak ini walaupun pastinya mereka lebih 'mateng' daripada yang lain ya... Dengan pembawaan mereka yang tegas dan disiplin, membuat kita para volunteer kudu gercep saat dibutuhkan. Tugas gue dan temen-temen adalah mempersiapkan peralatan dan ngukur lapangan setiap latihan. Di SBC, 150 TNI ini adalah salah satu pemain di pagelaran teatrikalnya. 

Dari SBC ini, gue belajar untuk ngurus acara yang tarafnya nasional dengan jumlah peserta ratusan. Cerita mengenai SBC bakal gue bahas di postingan selanjutnya. Dalam postingan ini, gue cuma ingin menceritakan Solo berdasar secuil sudut pandang gue. Betapa baiknya Tuhan udah mengizinkan gue untuk tinggal di Kota ini, mengenal kotanya, penduduknya beserta budaya yang tersedia.